Purna adalah kata bahasa Sansekerta yang memiliki makna lengkap tanpa kekurangan suatu apapun, sempurna tiada cacat celanya. Paripurna adalah titik kesempurnaan tertinggi, suatu kondisi yang paling ideal dan membahagiakan. Dengan demikian Pemaripurna adalah suatu karya upaya untuk mewujudkan keparipurnaan tersebut, usaha untuk menyempurnakan dengan sebaik-baiknya.
Bhumi merujuk kepada ibu pertiwi, tanah tempat kita lahir, tinggal, hidup, bertumbuhkembang, berkarya, sampai akhirnya menutup usia. Namun dimensi kata ini sesungguhnya lebih dalam dari itu. Bhumi merupakan lapangan kehidupan. Andaikan kehidupan ini adalah sebuah pertunjukan drama dengan manusia beserta segenap makhluk lain sebagai seniman-seniman yang bermain di dalamnya, maka Bhumi adalah panggungnya. Bhumi adalah tempat berpijaknya semua aspek kehidupan, yang darinya kita semua mendapatkan daya hidup. Pamaripurna Bhumi adalah upaya menyempurnakan Bhumi. Apakah dengan demikian berarti bahwa Bhumi ini tidak sempurna? Tidak. Bhumi dengan segenap kehidupan yang berada di dalamnya berasal Hyang Mahasempurna. Dalam Weda dinyatakan bahwa asal-muasal segalanya ini adalah OM PURNAM. Dari Yang Sempurna hanyalah memancar kesempurnaan. Segala sesuatu yang berasal dari Hyang Mahasempurna adalah sempurna adanya. Tiada kekurangan apapun padanya, tiada cacat cela. Jika demikian lalu apa relevansinya melakukan sesaji menyempurnakan bumi?
![]() |
| sesaji adalah ekspresi cinta |
Sesaji merupakan Yadnya (Yajna) yaitu persembahan yang tulus berasal dari kedalaman batin yang tersuci. Yadnya adalah ekspresi/ungkapan cintakasih. Weda menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan dunia ini melalui Yadnya, yang maknanya bahwa dunia ini tercipta tiada lain oleh limpahan Cinta Illahi yang agung. Dunia ini diresapi oleh kasih sayang-Nya yang tak terbatas. Bhumi itu sendiri adalah ekspresi dari Cinta Tuhan. Hubungan antara Tuhan dan ciptaan-Nya hanyalah didasari oleh cintakasih semata. Sebagaimana cinta adalah saling berbalasan, saling menanggap, maka manusia pun menghaturkan Yadnya, sesaji, sebagai ungkapan kecintaannya kepada Tuhan. Dengan Yadnya manusia kembali disadarkan untuk melihat dan merasakan bagaimana Tuhan telah menciptakan segala sesuatunya dengan sempurna bagi kita semua. Supaya setiap saat kita dapat bergembira dalam kehidupan yang diberikan Tuhan kepada kita, bagaimanapun wujudnya. Karena kita dapat senantiasa dapat melihat kesempurnaan Cinta-Nya dalam setiap aspek kehidupan.
Sesaji atau Yadnya itu pun menjadi agung, luhur, dan mulia, bukan karena kemeriahannya. Bukan karena banyaknya peserta, bukan karena besarnya biaya yang dikeluarkan, bukan pula karena lama dan seringnya dilakukan atau malah karena jarang dan langkanya. Namun dia menjadi agung dengan membesarkan dan memenuhkan hati dengan niatan yang tulus untuk mempersembahkan kembali apapun yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita sebagai ungkapan rasa cinta kita kepada-Nya. Untuk bergembira dan bersyukur atas segala kelimpahan dan kesempurnaan yang kita terima. Terutama lagi adalah karena tekad agung kita mempergunakan anugerah itu bukan hanya untuk diri sendiri, namun untuk saling berbagi, berusaha sebaik-baiknya demi mewujudkan kesejahteraan tanpa membeda-bedakan di antara semua makhluk Tuhan yang hidup di bumi. Inilah makna dari Sesaji Agung Pamaripurna Bhumi.
![]() |
| mempersembahkan alam semesta kepada Sang Penciptanya |
Sesaji Agung Pemaripurna Bhumi pada tanggal 1 Desember 2012 ini dihaturkan di Singosari (Singhasari) yang sejatinya adalah tempat kelahiran dari ide Nusantara sebagai satu negara kesatuan yang diprakarsai oleh Sri Krtanagara (Kertanegara). Gagasan dan semangat itu diwariskan melalui putri beliau, seorang emenasi/titisan Bhatari Prajnaparamita, yaitu Dyah Gayatri, perempuan mulia dan ibu yang berpengetahuan mendalam serta berwawasan luas. Adalah Dyah Gayatri yang membesarkan keturunannya dengan semangat persatuan dan kesatuan, dengan kebijaksanaan dan cita-cita yang luhur, sampai itu semua terwujud pada masa kejayaan Wilwatikta-Majapahit melalui cucu beliau yaitu Sri Rajasanagara (Hayam Wuruk) dan Ra Kryan Mahapatih mPu Dwirada Mada (Gajamada).
Dengan demikian sesungguhnya Yadnya ini bukanlah demi kepentingan sekelompok orang ataupun terbatas sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan Singosari saja, melainkan dipersembahkan demi Nusantara, bagi seluruh tanah air, tumpah darah Indonesia yang sangat kita cintai.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar