Arya Prabharajalanchana terdiri dari Arya Garudacakra dan dua Arya Bajrasingha yang mendampingi di kanan kirinya sebagai penjaga. Arya Garudacakra melambangkan idealisme, pemikiran-pemikiran dari Mahakula Kedatwan Singhasari. Sedangkan Arya Bajrasingha melambangkan masyarakat Mahakula yang memegang teguh dan melindungi pemikiran-pemikiran tersebut.
Secara keseluruhan lambang ini disebut Prabharaja, "Cahaya Kewibawaan Yang Teragung". Menyatakan taksu atau kharisma kewibawaan negara dan bangsa. Lambang ini adalah wujud doa, pengharapan, dan upaya agar taksu Prabharaja itu dapat kembali ke Bhumi Singhasari khususnya dan Nusantara pada umumnya. Mahakula Kedatwan Singhasari adalah yang bertekad mengambil TANGGUNGJAWAB DHARMA untuk "ngurip/menghidupkan" makna simbol-simbol tersebut, melakoninya dalam dunia nyata.
Lambang Mahakula Kedatwan Singhasari terdiri dari,
1. Suparna (Garuda Emas) Garuda melambangkan penguasaan atas angkasa dan jiwa yang mengembangkan potensi diri setinggi-tingginya untuk mencapai keluhuran dan kemuliaan yang paling utama. Garuda adalah Raja burung, yang dalam mitologinya menjadi wahana Wishnu, Tuhan Mahapemelihara, Pelindung Dunia yang berada di mana-mana meresapi segalanya. Jadi wujud Garuda bukan sekedar burung yang perkasa, yang mampu terbang menjangkau setiap sudut semesta, namun juga berpadu dengan wujud manusia, lengkap dengan busana seorang raja, yang melambangkan peradaban, intelektualitas, kebijaksanaan, dan kesadaran Illahi yang sanggup berkembang hingga mencapai kesempurnaan menunggal dengan Sumbernya. Secara mistis Garuda melambangkan kesadaran agung Manunggaling Kawula Gusti.
2. Raktasingha (Singa/Macan kembang merah) Raktasingha adalah lambang kebesaran Kedatwan Singhasari terutama dimulai semenjak masa Bhatara Kritanagara (Kertanegara) dan lanjut sampai masa para Bhatara i Tumapel (Bhre Tumapel) di jaman Majapahit. Singha (bukan singa Afrika tapi Harimau/Macan Jawa besar dengan bulu bercorak) melambangkan penguasaan atas daratan/bumi, sifat keksatriaan, dan keberanian yang didasari kebenaran. Secara mistis melambangkan kesadaran agung akan Sangkan Paraning Dumadi. Dengan menginsafi asal-usul sejati segala yang ada, maka seseorang akan menjalani hidup yang tidak pernah melenceng dari jalur kebenaran. Penuh keberanian dan rasa percaya diri di manapun juga dalam segala keadaan, seperti Singha yang mengembara tanpa rasa takut di hutan belantara.
3. Naga hijau Naga melambangkan penguasaan atas air dan kesuburan dengan wujudnya seperti aliran sungai yang mengular. Gambaran/ukiran naga dalam busana kebesaran, penuh perhiasan, dan bermahkota menghiasi tempat-tempat dan citra-citra suci di Nusantara pada masa lalu merupakan perwujudan dari Ibu Pertiwi. Warnanya yang hijau melambangkan kesejukan, kasih sayang dan kemampuan penyembuhan/pemulihan. Dia menghiasi Arya Prabhalanchana seperti sebuah selendang yang mengingatkan kita akan kemurahan Tuhan kepada Bumi Singhasari dengan airnya yang melimpah dan tanah yang subur. Dalam mitologi, Rajanaga ditunjuk Tuhan untuk memegang kuasa atas alam bawah (Patalaloka), menyangga dan mengatur kemakmuran bumi. Dia menjadi perantara membagikan berbagai kenikmatan yang dianugerahkan Tuhan kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Secara mistis Naga ini melambangkan kesadaran agung Memayu Hayuning Bhawana.
4. Mahasudarsana Chakra Maha berarti agung, Sudarsana berarti pandangan terang, dan Chakra berarti lingkaran/roda. Secara umum lambang ini menyatakan Dharma, Jalan Illahi, Hukum Abadi yang mengatur seluruh alam semesta. Dia adalah penyelenggaraan Tuhan yang senantiasa indah, selaras, serasi, seimbang, dan sempurna, tidak berawal dan berakhir seperti lingkaran. Mahasudarsana Chakra terdiri dari kombinasi beberapa lambang sbb.:
i. Roda bercahaya matahari, melambangkan pikiran jernih dan batin yang terang. Beruji dan bersudut delapan mengarah ke delapan penjuru mata angin, memancarkan cahaya pencerahan kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Sinar kemerahan seperti warna cahaya matahari yang baru terbit melambangkan kasih sayang yang menjangkau semuanya dengan tujuh berkas yang menyatakan sumber Illahinya. Inilah lambang dari Dharma Keweshnawan yang diwakili Pawitragiri (Gunung Penanggungan) dengan mengutamakan Bhakti, cintakasih, dan penyerahan diri.
![]() |
| Pawitragiri, gunung suci Penanggungan. sumber: panoramamoxer |
![]() |
| Mahameruparwata, gunung suci Semeru. sumber: liburankegunung |
![]() |
| Brahmaresigiri, gunung suci Bromo. sumber: matoa |
![]() |
| Kawindragiri, gunung suci Kawi. sumber: eksotiksekitarku |
![]() |
| Arjunagiri, gunung suci Arjuno. sumber: malangonline |
Sang Garuda, jiwa yang menuju kesempurnaan, memegang Mahasudarsana Chakra dengan santai. Jika keseluruhan makna Chakra dipandang sebagai ajaran-ajaran dan aturan-aturan disiplin duniawi maupun rohani, maka Sang Garuda jauh dari kesombongan dan fanatisme sempit yang hanya sekedar berebut kebenaran, saling menghakimi dan menyalahkan. Namun jika Chakra adalah tuntunan luhur yang sempurna, diinsafi, dihayati, dan diamalkan, maka Sang Garuda melakukannya dengan bahagia, bebas tanpa beban.
Pada tubuh naga terdapat plakat bertulisan Jawa Klasik berbunyi JAYA SINGHASARI. Seruan bersemangat untuk membangun kembali kejayaan Singhasari. Singhasari ini bukanlah sekedar wilayah di Timur G. Kawi, yang kini hanyalah sebuah kecamatan dalam Kabupaten Malang, Jawa Timur. Singhasari adalah sebuah cita-cita, sebuah pemikiran dan peradaban agung yang menjadi pembangun persatuan dan kesatuan seluruh Nusantara, leluhur yang mewariskan dasar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang JAYA!





Tidak ada komentar:
Posting Komentar