Rabu, 15 Juli 2015

HYANG IBU HUJUNG (1)

Jejak Sejarah Mdang di Singhasari

Dusun Ngujung yang terletak di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang sudah merupakan suatu pusat peradaban yang aktif bahkan sejak jaman Medhang di masa pemerintahan mPu Sindok. Dahulunya daerah ini merupakan pusat wilayah Watak bernama Hujung yang dikepalai oleh seorang Raka. Berdasarkan keterangan prasasti-prasasti, paling tidak di daerah Malang terdapat daerah-daerah Watak yaitu Kanuruhan, Waharu, Hujung, Tugaran, dan Pagaingan. Pada prasasti Lawajati/Lowokjati/Lokjati (th.929M) ada disebutkan bahwa daerah Linggasuntan, yang diperkirakan adalah Lokjati sekarang, merupakan termasuk wilayah Hujung di bawah kekuasaan Raka i Hujung mPu Madhura Lokaranjana, yang dimerdekakan dari pajak karena mendukung kelangsungan pemujaan di tempat suci Bhattara i Walandit (Blandit). 
Hyang Ibu Hujung
Dalam kitab Deshawarnana (Nagarakrtagama) karya mPu Prapanca, yang merupakan catatan perjalanan Maharaja Hayam Wuruk keliling negeri, terdapat laporan tentang kunjungan ke Singhasari/Tumapel yang termasuk menyebutkan keberadaan Hujung. Selain itu juga disebutkan tempat yang berdekatan dengan Hujung yaitu Kedung Biru dan Kasurangganan. Kedung Biru sekarang adalah Dusun Biru, Desa Gunungrejo. Di sini terdapat situs yang dikenal sebagai Botorubuh dengan Sumber Nagan dan Sumber Banyu Birunya. Sedangkan Kasurangganan tak lain adalah situs Candi Sumberawan. Keterangan tersebut terdapat pada Deshawarnana Pupuh XXXV sloka 1 – 4 sebagai berikut,

“Sampai Pasuruan menyimpang jalan menuju ke Selatan menuju Kepanjangan. Mengikut jalan raya, kereta berlari beriring-iring ke Andoh Wawang, ke Kedung Peluk, dan ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan. Segera Baginda (Sri Rajasanagara/Hayam Wuruk) menuju kota Singhasari, bermalam di balai kota.
Prapanca yang tertinggal di sebelah Barat Pasuruan ingin terus melancong. Menuju ashrama Indarbaru yang letaknya di desa Hujung. Berkunjung ke rumah pengawasnya, bertanya tentang perkara tanah ashrama (padepokan/biara). Lempengan piagam pengukuh diperlihatkan, jelas adanya setelah dibaca.
Isi piagam: tanah datar, serta lembah dan gunungnya milik Wihara. Begitu pula sebagian Markaman, ladang Balunghura, dan sawah Hujung. Isi piagam merayu hati sang pendeta untuk tinggal jauh dari Pura. Bila telah habis bekerja di Pura, ingin dia menyingkir ke Indarbaru.
Sebabnya terburu-buru (Prapanca) berangkat setelah dijamu bapa ashrama, karena ingat akan giliran menghadap di balai kota Singhasari. Habis menyekar di candi pedharman, Baginda bersukaria, menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan, dan Bureng.”

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah kedudukan Tumapel/Singhasari menjadi sangat penting, pusat dari daerah watak Hujung ini tampaknya berkembang pula menjadi suatu kompleks pemukiman dan ashrama para Brahmana yang mengurus tempat-tempat suci di seputaran wilayah kerajaan Singhasari. Di Dusun Karangwaru yang bersebelahan dengan Dusun Ngujung sekarang kita masih dapat menemukan sebuah situs tempat peribadatan yang terintegrasi dengan pemukiman. Pada saat ini kita hanya mendapatkan reruntuhannya berupa tumpukan batu bata merah berukuran besar. Ada juga sebuah Yoni dan Lingga dari batu, fragmen Kalamukha, dan sisa sebuah Arca Nandi tanpa kepala.

Situs fragmen candi Karangwaru yang belum dirawat
Kalamukha tanpa rahang bawah di situs Karangwaru
Arca Nandi tanpa kepala
Linggayoni Karangwaru. 
Situs Karangwaru yang terlupakan. Tanahnya pun sudah dimiliki pribadi. Upaya pelestarian terhambat oleh status kepemilikan ini
Semua ini menandakan bahwa pada masa lalu tempat ini merupakan pusat peribadatan yang bercorak Hindu. Yoni merupakan landasan atau tatakan dari Arca maupun Lingga yang dahulunya tentu terletak di dalam bangunan suci. Kalamukha merupakan ukiran khas yang ditempatkan pada bagian atas pintu masuk bangunan suci tersebut. Yang unik dari Kalamukha di situs ini adalah tidak memiliki rahang bawah seperti pada umumnya Kalamukha pada candi-candi Jawa Timur. Bentuknya mengingatkan pada ukiran Kalamukha di candi Badut dan Candi Songgoriti. Berbeda dengan yang kita temukan di Candi Singosari yang terletak tak jauh dari situs ini. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tentunya bangunan suci ini berasal dari peradaban yang lebih tua dari masa Tumapel-Singhasari, yang di kemudian hari masih tetap lanjut difungsikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar