Dusun Ngujung yang terletak di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang sudah merupakan suatu pusat peradaban yang aktif bahkan sejak jaman Medhang di masa pemerintahan mPu Sindok. Dahulunya daerah ini merupakan pusat wilayah Watak bernama Hujung yang dikepalai oleh seorang Raka. Berdasarkan keterangan prasasti-prasasti, paling tidak di daerah Malang terdapat daerah-daerah Watak yaitu Kanuruhan, Waharu, Hujung, Tugaran, dan Pagaingan. Pada prasasti Lawajati/Lowokjati/Lokjati (th.929M) ada disebutkan bahwa daerah Linggasuntan, yang diperkirakan adalah Lokjati sekarang, merupakan termasuk wilayah Hujung di bawah kekuasaan Raka i Hujung mPu Madhura Lokaranjana, yang dimerdekakan dari pajak karena mendukung kelangsungan pemujaan di tempat suci Bhattara i Walandit (Blandit).
![]() |
| Hyang Ibu Hujung |
“Sampai Pasuruan menyimpang jalan menuju ke Selatan menuju Kepanjangan. Mengikut jalan raya, kereta berlari beriring-iring ke Andoh Wawang, ke Kedung Peluk, dan ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan. Segera Baginda (Sri Rajasanagara/Hayam Wuruk) menuju kota Singhasari, bermalam di balai kota.
Prapanca yang tertinggal di sebelah Barat Pasuruan ingin terus melancong. Menuju ashrama Indarbaru yang letaknya di desa Hujung. Berkunjung ke rumah pengawasnya, bertanya tentang perkara tanah ashrama (padepokan/biara). Lempengan piagam pengukuh diperlihatkan, jelas adanya setelah dibaca.
Isi piagam: tanah datar, serta lembah dan gunungnya milik Wihara. Begitu pula sebagian Markaman, ladang Balunghura, dan sawah Hujung. Isi piagam merayu hati sang pendeta untuk tinggal jauh dari Pura. Bila telah habis bekerja di Pura, ingin dia menyingkir ke Indarbaru.
Sebabnya terburu-buru (Prapanca) berangkat setelah dijamu bapa ashrama, karena ingat akan giliran menghadap di balai kota Singhasari. Habis menyekar di candi pedharman, Baginda bersukaria, menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan, dan Bureng.”
Dalam perkembangan selanjutnya, setelah kedudukan Tumapel/Singhasari menjadi sangat penting, pusat dari daerah watak Hujung ini tampaknya berkembang pula menjadi suatu kompleks pemukiman dan ashrama para Brahmana yang mengurus tempat-tempat suci di seputaran wilayah kerajaan Singhasari. Di Dusun Karangwaru yang bersebelahan dengan Dusun Ngujung sekarang kita masih dapat menemukan sebuah situs tempat peribadatan yang terintegrasi dengan pemukiman. Pada saat ini kita hanya mendapatkan reruntuhannya berupa tumpukan batu bata merah berukuran besar. Ada juga sebuah Yoni dan Lingga dari batu, fragmen Kalamukha, dan sisa sebuah Arca Nandi tanpa kepala.
![]() |
| Situs fragmen candi Karangwaru yang belum dirawat |
![]() |
| Kalamukha tanpa rahang bawah di situs Karangwaru |
![]() |
| Arca Nandi tanpa kepala |
![]() |
| Linggayoni Karangwaru. |
![]() |
| Situs Karangwaru yang terlupakan. Tanahnya pun sudah dimiliki pribadi. Upaya pelestarian terhambat oleh status kepemilikan ini |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar