Sebagaimana seharusnya sebuah Kesanghyangan yang suci, tentunya dilakukan sejumlah upacara untuk memulai pemanfaatannya secara resmi sebagai pusat spiritual. Pemlaspasan bangunan suci candi Sanghyang Saptaarga juga diselenggarakan pada Purwani Purnama Kelima, 16 November 2013. Upacara ini selain sebagai upaya menyucikan kembali Petirtan Polaman dan Sanghyang Saptaarga, juga merupakan suatu upaya spiritual untuk membuka kembali gerbang yang menghubungkan para Hyang Karihinan, leluhur pendiri dan penegak peradaban Singhasari di masa lampau, dengan para sentana-paratisentana, anak cucu keturunan pewaris mereka di masa kini. Inilah pertanda kembalinya para sentana-paratisentana pulang ke tanah leluhurnya. Memohon agar Hyang Karihinan bersedia membuka gerbang niskala Singhasari bagi para penerusnya. Gerbang yang sebelumnya telah tertutup rapat demi melindungi kesucian dan kemurnian Singhasari dari pengaruh-pengaruh asing yang menjajah Bhumi Suci sakala selama berabad-abad.
Upacara Pemlaspasan ini dipimpin oleh Ida Pedanda Rsi Agung Damarjaya Pemecutan dan Ida Pedanda Agung Bhagawan Hyang Anulup Pemecutan. Sekali lagi, kerabat Kedatwan Singhasari yang berasal dari berbagai komunitas, berbagai keyakinan, dan berbagai garis jalan spiritual berkumpul bersama di Polaman untuk memahayu hayuning bhawana, mengupayakan kesejahteraan dunia, khususnya agar kewibawaan dan kejayaan Bhumi Singhasari dan peradabannya yang menakjubkan dapat segera mewujud ke alam sakala.
| Bersatu lagi dalam semangat, doa, dan upaya kerja keras bersama mengembalikan peradaban Singhasari |
Mulai saat itu, ritual rutin dilaksanakan sebulan sekali pada Malam Jumat Legi/Umanis. Pada hari ini dilaksanakan Puja Pemahayu Bhawana oleh para Pratyayakara Kedatwan Singhasari yang berkumpul semua di Saptaarga untuk mendoakan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan alam semesta, khususnya Bhumi Singhasari. Pada malam tersebut dilaksanakan pengukupan/pengharuman dengan asap bakaran wewangian bagi sumber air Polaman. Inilah saat dibukanya pintu besi tandon pelindung sumber yang dahulu dibangun oleh Belanda. Jika tepat waktu kita bisa melihat ke dalam dan mengetahui secara langsung sumber air asli Polaman yang penuh nuansa mistis.
![]() |
| Suasana candi Saptaarga saat Puja Pemahayu Bhawana tiap malam Jumat Legi (Umanis) |
Prosesi unik lainnya adalah pembacaan mantra-mantra sapatha, yaitu kutukan pelindung untuk menjaga keamanan, kelestarian, dan kesucian kesanghyangan beserta sumber airnya, karena Polaman merupakan sumber air yang sangat penting penyedia utama bagi sebagian besar wilayah kecamatan Lawang. Sehubungan dengan itu, maka tidak jarang peringatan Malam Jumat Legi ini juga disertai dengan doa lintas agama dan kepercayaan dari berbagai komunitas.
![]() |
| Candi Sanghyang Saptaarga, simbolik kehadiran rohani Sri Mahawisnu di Polaman |
![]() |
| Pratima Bhattara Marawijaya Ganapati |
![]() |
| Pratima Bhattara Mahaguru Agastya |
![]() |
| Pratima Bhattari Prajnaparamita |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar