Minggu, 26 Juli 2015

HYANG IBU HUJUNG (2)

Simbol Kasih Sang Ibu Pertiwi

Simbol ini berupa peninggalan berbentuk lumpang batu silindris berukuran diameter atas sekitar 1 m yang kemudian mengecil pada bagian bawah kira-kira berdiameter 80 cm. Pada sisi-sisinya terdapat motif ukiran bunga dan diagram bersudut 12 yang unik. Sebagiannya terdapat kerusakan yang diperkirakan akibat kesengajaan/gempuran sehingga tidak utuh lagi. Pada bagian tengah terdapat lubang cerukan dengan diameter lebih kurang 20cm dan dalamnya 40cm yang selalu terisi air. Bentuk peninggalan demikian ini cukup langka dan jarang ditemukan. Sepertinya bahkan hanya ada di tempat ini saja. Diperkirakan berfungsi sebagai bagian dari ritual yang berkaitan dengan pertanian di masa lampau.
Situs Hyang Ibu Hujung. Watulumpang/Yoni yang kini ada di Urung-urung. Dusun Ngujung, Desa Toyomarto, Singosari
Saat ini Kedatwan Singhasari bersama warga Dsn. Ngujung berupaya mengamankannya di suatu tempat yang dikenal sebagai Urung-urung. Terletak di Dsn. Ngujung, Desa Toyomarto, Singosari. Dapat dicapai dengan masuk melalui Gang 3, lurus menuju selatan ke arah persawahan. Dari jalan terlihat jelas adanya pohon besar yang menaungi situs ini. Sebelum menuju situs kita terlebih dahulu dapat mengunjungi Pos Informasi yang terletak di rumah Mbah Talim. Beliau bersama dengan Mbah Sutaji adalah sesepuh yang ditunjuk oleh Kedatwan untuk menjaga kelestarian Watulumpang. Di sini kita bisa memperoleh keterangan dan pendampingan yang diperlukan saat mengunjungi situs Watulumpang. 

Menentukan batas wilayah tempat berdirinya pedestal bagi Yoni Hujung
Kerja gotongroyong warga Kedatwan menggali pondasi pelataran Hyang Ibu Hujung. Apapun profesinya, mendadak jadi kuli dan tukang.
Menempatkan benda-benda yang sudah diberkati, prasasti sapatha, permata, kepingan logam, dan diagram-diagram yantra untuk mengawali pembangunan batas pelataran Hyang Ibu
Memulai memasang batu-batu pondasi keliling
Sesungguhnya tempat asli peninggalan ini pun berada dekat dengan lokasi peninggalan di Karangwaru. Penataan kembali lokasi peninggalan Watulumpang ini diprakarsai oleh Kedatwan Singhasari mulai tanggal 25 Januari 2014. Upaya ini salah satunya dimaksudkan untuk pelestarian secara fisik sehingga tampak lebih tertata dan indah sehingga dapat dijadikan tujuan wisata di wilayah Singosari-Malang. Di samping itu penataan ini juga dilaksanakan sedemikian rupa sehingga saat ini keberadaan peninggalan tersebut dapat bermakna dan memberikan pesan-pesan moral yang bisa disampaikan kepada generasi berikutnya. 
Menggali pondasi pedestal/lapik alas untuk menempatkan Yoni
Kryan Adyakulapati dan Rangga Atuha menempatkan kembali salah satu batu dan bata merah kuno yang dahulu berserakan di sekitar Yoni sebagai dasar bangunan lapik Yoni 
Sesaji sederhana dan yantra yang dituliskan di lempeng tembaga dibungkus lagi dengan yantra kain menjadi pelindung batu dasar bangunan ini
Yantra Kura-kura Lima Unsur Sanghyang Pancabhutakupa, simbol alam yang mendukung kehidupan
Dasar yang ditutup Sanghyang Bajranala


Lapik Yoni mulai dibangun setelah ritual penempatan dasar. Dikerjakan sendiri oleh para Kulapati 




Perjuangan memindahkan Yoni Hujung ke atas lapiknya yang telah disiapkan. Perlu duabelas orang. Mereka adalah warga Kedatwan dan WARGA DUSUN NGUJUNG, ORANG-ORANG YANG SAMA YANG TELAH MENYELAMATKAN YONI DARI KEADAAN TERLANTAR DI PINGGIR JALAN BERTAHUN-TAHUN LALU
Mengatur posisi Yoni di lapiknya yang baru


Anak-anak pun juga ikut membantu
Penyucian kembali dan peresmian peninggalan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2014, setelah serangkaian penataan dianggap cukup oleh Kedatwan. Pada saat yang sama juga dilaksanakan penyerahan oleh Kedatwan selaku pelaksana awal penataan situs kepada masyarakat yang diwakili oleh Lurah Toyomarto untuk melaksanakan pelestarian dan pengembangan lebih lanjut. Secara resmi juga ditunjuk Mbah Talim dan Mbah Sutaji sebagai juru pelihara situs dengan persetujuan Lurah Toyomarto, Kedhatwan Singhasari, dan masyarakat. Mereka berdua adalah tokoh yang selama ini melaksanakan tugas pelestarian dan pemeliharaan situs selama bertahun-tahun secara sukarela dan swadaya. Situs Watulumpang Hujung telah ditata sedemikian rupa oleh Kedatwan Singhasari sebagai monumen keagungan bangsa. Sebagaimana saat kita memandang bendera Merah Putih berkibar, mengingatkan kita akan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan segala perjalanan sejarahnya yang menggetarkan. Maka kapanpun kita mengunjungi dan melihat situs Watulumpang Hujung ini, hendaknya kita ingat akan Ibu Pertiwi, Tanah Air kita tercinta. Situs ini bukanlah sekedar punden desa sederhana yang sarat takhyul kekunoan. Tetapi ini menjadi tempat keramat bangsa. Keramat bukan karena hal-hal yang bersifat gaib. Tetapi sebagaimana harta pusaka negara (national treasure), dia adalah perlambang yang membangkitkan semangat nasionalisme. Semangat untuk berbakti pada tanah air, membangun jiwa raga demi kebesaran negara. Lambang dari sebuah bangsa besar yang bermartabat, yang tak lupa akan kewajibannya pada Ibu Pertiwi, serta membangun keselarasan dan perdamaian dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar