Simbol ini berupa peninggalan berbentuk lumpang batu silindris berukuran diameter atas sekitar 1 m yang kemudian mengecil pada bagian bawah kira-kira berdiameter 80 cm. Pada sisi-sisinya terdapat motif ukiran bunga dan diagram bersudut 12 yang unik. Sebagiannya terdapat kerusakan yang diperkirakan akibat kesengajaan/gempuran sehingga tidak utuh lagi. Pada bagian tengah terdapat lubang cerukan dengan diameter lebih kurang 20cm dan dalamnya 40cm yang selalu terisi air. Bentuk peninggalan demikian ini cukup langka dan jarang ditemukan. Sepertinya bahkan hanya ada di tempat ini saja. Diperkirakan berfungsi sebagai bagian dari ritual yang berkaitan dengan pertanian di masa lampau.
![]() |
| Situs Hyang Ibu Hujung. Watulumpang/Yoni yang kini ada di Urung-urung. Dusun Ngujung, Desa Toyomarto, Singosari |
![]() |
| Menentukan batas wilayah tempat berdirinya pedestal bagi Yoni Hujung |
![]() |
| Kerja gotongroyong warga Kedatwan menggali pondasi pelataran Hyang Ibu Hujung. Apapun profesinya, mendadak jadi kuli dan tukang. |
![]() |
| Menempatkan benda-benda yang sudah diberkati, prasasti sapatha, permata, kepingan logam, dan diagram-diagram yantra untuk mengawali pembangunan batas pelataran Hyang Ibu |
![]() |
| Memulai memasang batu-batu pondasi keliling |
![]() |
| Menggali pondasi pedestal/lapik alas untuk menempatkan Yoni |
![]() |
| Kryan Adyakulapati dan Rangga Atuha menempatkan kembali salah satu batu dan bata merah kuno yang dahulu berserakan di sekitar Yoni sebagai dasar bangunan lapik Yoni |
![]() |
| Sesaji sederhana dan yantra yang dituliskan di lempeng tembaga dibungkus lagi dengan yantra kain menjadi pelindung batu dasar bangunan ini |
![]() |
| Yantra Kura-kura Lima Unsur Sanghyang Pancabhutakupa, simbol alam yang mendukung kehidupan |
![]() |
| Dasar yang ditutup Sanghyang Bajranala |
![]() |
| Lapik Yoni mulai dibangun setelah ritual penempatan dasar. Dikerjakan sendiri oleh para Kulapati |
![]() |
| Mengatur posisi Yoni di lapiknya yang baru |




















Tidak ada komentar:
Posting Komentar