Minggu, 12 Juli 2015

MANDALA SANGHYANG SAPTA ARGA RI POLAMAN (3)


Tempat Suci dan Taman Meditasi
Sebagai upaya lebih lanjut untuk melestarikan peninggalan-peninggalan purbakala di petirtan Polaman dan mengembalikan kesucian tempat ini sebagai Mandala Sanghyang, maka diadakanlah serangkaian pembangunan dan penataan secara bertahap oleh Kedatwan Singhasari dan swadaya masyarakat Lawang-Singosari.
Yantra, akshata/beras kuning, dan air suci
yang akan ditempatkan sebagai pembungkus dasar bangunan suci Sanghyang Saptaarga
SAA Suryadhi, Adyakulapati Kedatwan Singhasari menempatkan dasar bangunan suci
Beberapa pecahan periuk kuno yang ditemukan di sekitar lokasi bangunan
 juga turut dimasukkan sebagai dasar. Jika disimpulkan dari penuturan sumber setempat,
kemungkinan merupakan bagian dari periuk pripih pancadhatu kuno
 dari bangunan candi terdahulu yg isinya telah hilang.
Bangunan suci utama yang didedikasikan kpd Sanghyang Saptaarga Sri Mahawisnu
Miniatur candi ini dihias sesaat sebelum upacara penyucian/pemlaspasan
Candi Sanghyang Saptaarga dengan relung timur bersthana Bhattara Marawijaya Ganapati
Ini adalah salah satu dari Pratima yang sangat penting dalam perjalanan Kedatwan
Pratima Bhattara ini kemudian ditempatkan di Polaman bersama Pratima Bhattara Mahaguru,
Bhattara Tathagatha, dan Bhattari Prajnaparamita
Pratima Bhattara Marawijaya Ganapati yg sebelumnya dirawat oleh
Pratyayakara di Anantasana dr. SAB. Putu Beniartha, selanjutnya ditempatkan di Saptaarga Polaman


Pratima Bhattari Prajnaparamita yang juga akan ditempatkan dalam relung utara
SAA Suryadhi membawanya sesaat sebelum pemlaspasan
Pratima ini dipersembahkan oleh Rm. KA. Suwondo,
Pratyayakara Kedatwan yg bertugas di Purwapatapan (Candi Singosari)
Pembangunan selanjutnya terus diupayakan terutama membangun tembok di sekeliling bangunan suci utama berupa miniatur candi yang kemudian akan dipersembahkan sebagai kedudukan niskala/pelinggih dari Sanghyang Sri Mahawisnu dan pusat dari taman meditasi. Semua dikerjakan secara swadaya. Bahkan Rm. SAA. Suryadhi sendiri yang turut membangunnya dengan kemampuan undhagi (pertukangan) yang tiba-tiba saja dimilikinya (sebenarnya beliau seorang teknisi/mekanik dan aktivis sosial-politik).
Rm. Mangku Dharma mengerjakan ukiran naga yang melingkari pagar pembatas
Bekerja bergantian dengan Rm. Suryadhi dengan peralatan seadanya
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar