Minggu, 12 Juli 2015

MANDALA SANGHYANG SAPTA ARGA POLAMAN (5)

Sapatha, Sebuah Kutukan Pelindung Kesucian
Prasasti sapatha atau kutukan pelindung yang dituliskan di atas lempengan tembaga juga turut diplaspas, diurip, dan kemudian dipendam pada lokasi-lokasi tertentu di seputar wilayah Sanghyang Saptaarga Polaman. Walaupun ini adalah suatu upaya pengamanan yang dirahasiakan, namun perlulah kita mengetahui isi dari sapatha ini, supaya kita terhindar dari berbuat kesalahan di tempat-tempat yang telah dilindungi olehnya. Dengan demikian tentunya kita juga akan terhindar dari akibat-akibat yang ditimbulkannya.

Sebuah sapatha selalu ditempatkan pada masa lalu oleh leluhur kita pada tempat-tempat yang disucikan dan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Polaman dengan sumber airnya yang menghidupi ribuan orang tentu adalah salah satunya. Jika kita tidak ketat dalam melindungi sumber ini, apa jadinya ribuan orang yang minum airnya dan juga berhektar-hektar sawah yang tergantung pada pasokan air dari Polaman. Oleh karena itu, Kedatwan Singhasari pun mengikuti kembali upaya supranatural warisan pendahulu kita ini untuk menjaga dan melindungi sumber berikut situs purbakala dan bangunan-bangunan suci di atasnya, yang semata-mata dibangun hanyalah untuk mengupayakan kebaikan dan kesejahteraan bersama.

Inilah isi sapatha Sanghyang Saptaarga ri Polaman supaya diperhatikan oleh kita semua.

"Iki sapatha tinibakneng atithawarttamananagatakala rumaksa mandala bhattarengpolaman 
kunang yang hana mirudha i sanghyang mandala bhattarengpolaman makaswarupanira sri paduka bhattari wasundhari mwang bhattara mahawishnu, sapratimanira hyang mahaguru, ganapati, bhattara buddha sri prajnaparamita, sarwwahananya, siwihos kunang yang hanangrubuhakna rupanira bhattarengpolaman, amangguha papa, sighra tibakna krodha bhatara yama kalagnirudra bajranala tadahen denira bhattari durgga bhairawi, cucupateknya, langga rudhiranya, rimarima hatinya, hamelamel dagingnya, hulunya tumpur bhrasta sahananya, umangguha catuspataka sahasrakoti janmanya kalbwing kawah. sanghyang trayodasasaksi amatyanana, denta amatyanana, yan humalintang ring tgal, sahuten dening ula, mandayan mareng alas dmakning mong, manglangkahana mingmang, yan mareng banwagong sahuten dening wahuya, mumul, tuwiran, yang liwat ing hawan gong kasopa wulanguna, yang hudan samberen ing glap, yan haneng umahnya katibanagni tanpa warsa, liputen gsengana de hyang agni wehen bhasmibhuta saha drwyanya, tanpanoliha ring wuntat, tarung ring adgan, tampyal i kiwan uwahi tngenan, tutuh tunduhnya, blah kapalanya, sbit wtengnya, tatas dadanya, wtwaken dalemanya, pangan dagingnya, inum rahnya, ateher pepedaken wehi pranantika bwangaken ing akasa, tibaken ing kawah, astu."

Inilah kutukan yang dijatuhkan untuk melindungi tempat suci Bhattara di Polaman, di masa lalu, masa kini, dan masa depan, untuk selama-lamanya.
Siapapun yang berlaku merusak di tempat suci Bhattara yang ada di Polaman, sebagai tempat perwujudan Bhattari Sri Basundhari dan Bhattara Mahawishnu, beserta citra-citra perwujudan arca Hyang Bhattara Mahaguru, Bhattara Ganesha, Bhattara Buddha dan Bhattari Prajnaparamita, semua yang ada, seumpama ada yang berniat menghancurkan perwujudan-perwujudan suci Bhattara di Polaman ini,  maka mereka bakal tertimpa petaka papa. Segera turunlah murka dewa kematian, api sang waktu yang mengerikan, api yang bagaikan halilintar tak dapat ditangkis, dimakanlah oleh Bhattari Durga Bhairawi, disedot otaknya, dihirup darahnya, diiris-iris hatinya, dicacah dagingnya, pecah berkeping-keping kepalanya, berhamburan isinya, masuklah ke dalam empat neraka yang paling mengerikan, beratus ribu kali lahir diceburkan ke dalam kawah. Sanghyang Trayodasasaksi tidak akan mengijinkannya lepas, pasti akan dibunuhnya. Cara membunuh mereka adalah sebagai berikut: Apabila melewati padang tegalan mereka akan dipatuk ular berbisa, apabila masuk hutan mereka diterkam macan, apabila melangkahi ranting kayu mereka disesatkan mingmang, apabila masuk sungai  mereka diterkam buaya, apabila masuk laut mereka dimakan ikan hiu atau hewan laut ganas, keluar siang hari kecelakaan berat, jika kehujanan disambar petir, jika di rumah maka kejatuhan api tanpa disangka, mereka diselimuti dan dimakan Bhattara Agni, dilebur menjadi abu, beserta seluruh harta bendanya tanpa sempat menoleh kebelakang. Jika bertarung dengan musuh, diterjang dari depan, dihantam dari kanan kiri, dihantam punggungnya, dipecah kepalanya, dirobek perutnya, dijebol dadanya, dikeluarkan seluruh jeroannya, dimakan dagingnya, diminum darahnya, lalu mereka dicekik sampai mampus, dibuang ke angkasa kemudian dijatuhkan ke kawah membara. Semoga demikianlah. 

"nihan ajnanku ri kamung sadaya. hyang hyang raksadewa yaksa raksasa daitya danawa preta pisaca brahmabhuta. yanghana manusa dussilaniccha mamirudha kahyangan dewata ri polaman sighra tibakna asubha phalanya. amanggiha papa durmanggala saparanparan"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar