Sabtu, 04 Juli 2015

SESAJI AGUNG PEMARIPURNA BHUMI SINGHASARI (1)

Momen spiritual dan budaya yang langka, mempersatukan kembali mereka yang meyakini Singhasari sebagai tanah leluhur bangsa, untuk berdoa bersama demi kesejahteraan Bhumi Singhasari dan kembalinya kewibawaan Singhasari. Dihaturkan untuk pertama kalinya di Mandala Suci Parahyangan Agung Sanghyang Anantasana di desa Klampok, Singosari, Malang.
Parahyangan Agung Anantasana, lokasi: Desa Klampok, Kec. Singosari, Kab. Malang

Titik kulminasi Sesaji Agung ini adalah penahbisan Linggayoni, sebagai simbol Sangkan Paraning Dumadi, Sang Hyang Girinatha Parwataraja, Tuhan Yang Maha Esa, Ayah dan Bunda Semesta, asal-muasal seluruh manifestasi kosmis berikut segala isinya. Inilah penanda kebangkitan kembali, lahir kembalinya sebuah peradaban agung di dunia.

Penempatan Nawaratna (sembilan jenis permata), sanghyang yantra, panca-dhatu, dan pedagingan (benda-benda suci yang melambangkan tubuh astral bangunan suci) ke dalam puncak Anantalingga, diikuti dengan pedagingan di tubuh padmalingga dan dasar padmalingga.
Penyucian Anantalingga yang dialasi mahapadma. Bagian dari proses pratistha/penahbisan (memakuh, mlaspas, dan pasupati)

Dilanjutkan pula dengan konsekrasi kembali Merthika-dhatu, Tanah Suci yang diambil dari berbagai situs-situs sejarah, candi-candi, punden-punden, dsb. yang kemudian disimpan dalam candi Saptasrengga. Dilengkapi pula dengan Air, yang dikumpulkan dari berbagai sumber di Nusantara. Inilah bentuk simbolik penghormatan kembali bagi Tanah Air Kita Yang Suci Mulia.
Menempatkan merthika-dhatu dan panca-dhatu ke dalam candi Saptasrengga

Sesaji Agung ini dihaturkan dengan persembahan utama menurut tradisi Siwabuddhagama. Sebuah ajaran spiritual dan tuntunan kerohanian yang dahulu lahir, tumbuh, dan berkembang dari Singhasari.

Iring-iringan menyambut kehadiran para Hyang yang akan memberkati Parahyangan dengan kehadiran spiritual mereka
Prosesi purwadaksina di sanggar pengubengan/sanggar panggungan. Simbolik terciptanya "alam baru" di mandala suci Parahyangan dengan mengundang kehadiran para Hyang dari segala penjuru, khususnya Hyang Karihinan, cikal-bakal Singhasari.
Sanghyang Yantra, yang melambangkan kehadiran mistis Hyang dlm bentuk diagram 2 dimensi di atas selembar logam diiring menuju sanggar panggungan
Kehadiran spiritual Hyang disambut dan diberi persembahan melalui prosesi pedhatengan

Setelahnya diikuti dengan doa bersama lintas keyakinan, lintas komunitas. Keseluruhan upacara Siwabuddhagama dipimpin oleh lima orang Sulinggih/Pendeta Tinggi, yaitu Hyang Rsi Aji Paduka Bhattara Mahampungku Niskala, Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruwan Manuaba, Ida Pedanda Istri Nabe Bang Keniten, Ida Pedanda Istri Oka Sidemen, dan Ida Pedanda Rsi Agung Damarjaya Pemecutan.
Yang Mulia Para Sulinggih yang pemimpin upacara
doa bersama lintas komunitas-lintas keyakinan diakhiri dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar