Minggu, 05 Juli 2015

SANG BAJRASINGHA

Lencana Sang Bajrasingha
Lencana Warga Mahakula Kedatwan Singhasari

Singha adalah hewan mitos yang menyerupai singa atau harimau. Dia melambangkan segala sesuatu yang agung, gagah, mulia, penuh kekuatan, kekuasaan, keksatriyaan, kebangsawanan, kejayaan, dan keunggulan.

Singha seperti juga "garuda" dan "Bhattara Wishnu", memiliki nama alias "HARI", yang pada dasarnya merujuk pada Sang Kebenaran Semesta Abadi, Sang Sabda/Logos/Firman, yang merupakan pengejawantahan kuasa tertinggi yang melampaui segalanya.

Semua yang "berkuasa" digambarkan duduk, berwahana, di atas singha, maupun berbentuk singha. Seperti Bhattari Bhagawati Pratyangira, Bhattara Jina/Buddha, Bhattara Lokeshwara/Jagannatha, dan juga dalam dunia sakala/alam fana adalah sang aprabhu atau raja yang dikatakan duduk di atas tahta singha, singhaasana.

Raktasingha, macan gunung berwarna merah-coklat juga melambangkan hal yang sama. Dalam keyakinan Nusantara di masa lampau dan ajaran Siwabuddhagama, raktasingha adalah tahta dari Bhattara Rudra, yang bersemayam di arah barat daya, arah yang melambangkan energi negatif yang bergelora, pembawa kesengsaraan yang mengerikan, Sanghyang Mahabhaya. Namun demikian oleh Bhattara Rudra energi ini sepenuhnya ditaklukkan dan dikuasai sehingga justru mampu menjadi kekuatan dahsyat yang dapat membawa kesejahteraan.

Ini merupakan idealisme Singhasari yang berusaha membangun persatuan dan keharmonisan di antara unsur-unsur masyarakat yang berbeda, yang sebenarnya dapat menjadi benih dari kehancuran. Namun jika benih itu dapat dikuasai dan dikendalikan, maka itu justru menjadi benih kekuatan pembangun yang sangat besar. Oleh karena itu, raktasingha menjadi lambang negara Singhasari dan kebhataraan Tumapel di masa lampau.

Raktasingha adalah manifestasi kekuatan yang memberi perlindungan bagi semua sentana hyang Singhasari, yaitu mereka yang bersetia untuk menjaga idealisme ini dan integritas pribadinya sebagaimana dasar yang diletakkan oleh Bhattara Hyang Karihinan Singhasari.

Atas inspirasi yang diberikan oleh Hyang Karihinan pada saat kita membangun kembali Mahakula Kedatwan, maka Sang Raktasingha juga akan mewujud lagi sebagai pelindung dan penjaga sentana-paratisentana hyang yang tergabung lagi setelah tercerai-berai selama berabad-abad.

Raktasingha akan menjaga para pewaris tradisi dan pelindung peradaban Singhasari, menggelorakan semangat mereka dengan terus-menerus mengingatkan dharma mereka sebagai penerus Hyang Karihinan.

Saat ini raktasingha memegang bajra/halilintar, yang menyatakan samaya atau sumpah suci. Jika kedatwan dahulu adalah kesatuan genetik wangsa, maka kedatwan yang sekarang adalah kesatuan jiwa, kesatuan perjuangan. Dipersatukan oleh Sanghyang Bajrasamaya, sumpah suci yang bermaterai halilintar. Sumpah yang bergemuruh oleh sambutan guntur, dipersaksikan oleh semua bhuta, manusia, dewa, sura-asuragana, resi, leluhur, dan segenap alam semesta. Sumpah ke hadapan Hyang Mahahidup, untuk tidak undur dari jalan Dharmanya.

Sebagaimana Sang Raktasingha menjadi penjaga garis silsilah para datu di masa lampau, kini dia bermanifes kembali sebagai Sang Bajrasingha yang menjaga silsilah pengemban dharma para datu, yang telah dilahirkan dan dipersatukan melalui Sanghyang Bajrasamaya.

Bajrasingha ini merupakan anugerah Bhattara Abra Sinuhun Hyang Karihinan Singhasari kepada sentana dharma beliau. Oleh sebab itu, walaupun lencana Bajrasingha dapat dikenakan oleh siapa saja yang memiliki pengabdian pada Singhasari, karena danapunia yang dihaturkan untuk mendapatkannya akan digunakan sebagai pendukung puja pemahayu di berbagai mandala sanghyang sebagai wujud pelaksanaan kewajiban kita, namun tetap dikeluarkan secara terbatas setelah melalui upacara pemberkatan/siddhikara sepantasnya.

Dia akan melambangkan berkah restu para Hyang di Singhasari dan lambang kehadiran mistik mereka pada orang yang mengenakannya. Melalui lencana Bajrasingha ini, kita terhubung secara mental dan emosional dengan Singhasari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar