Tanah pelataran tempat berdirinya Watulumpang dibentuk segitiga melambangkan keharmonisan hubungan antara Tuhan Yang Mahapencipta sebagai sumber asal-muasal tertinggi bersama ciptaan-Nya yaitu manusia dan alam semesta. Manusia menjalin hubungannya dengan Tuhan melalui jalan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Namun ibadah itu tentu harus disertai dengan kepedulian terhadap sesama dan juga lingkungan. Manusia secara nyata dapat hidup dengan bahagia dan sejahtera adalah melalui dukungan sesamanya dan alam lingkungan yang memberikan berbagai kebutuhan. Sesungguhnya Tuhan memelihara umat-Nya dengan adanya sesama sebagai mitra yang saling mendukung dalam menjalani kehidupan dan perannya di alam semesta. Tuhan juga memberikan karunia-Nya melalui alam lingkungan, ibu pertiwi dengan segala kekayaannya yang dapat diolah dan dimanfaatkan manusia. Adalah kewajiban manusia untuk bersyukur dan tidak putus-putus berterimakasih kepada Tuhan, yang diwujudkan utamanya dengan menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama manusia dan bersama-sama turut memelihara kelestarian alam anugerah Tuhan ini. Itulah makna dari pelataran berbentuk segitiga.
![]() |
| Tanah pelataran Hyang Ibu berbentuk Trikona atau segi tiga |
Watulumpang yang berbentuk bulat adalah Yoni, simbol Ibu, yang juga melambangkan alam semesta ciptaan-Nya. Bila lebih dikhususkan maka itu adalah Ibu pertiwi, tanah air Nusantara, tempat kita berpijak dan memperoleh kehidupan. Bagaikan seorang ibu yang memelihara anaknya dengan penuh kasih sayang, melalui Ibu Bumi, Tuhan menyediakan berbagai hasil alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Air alami yang ditampung dalam Watulumpang melambangkan air susu Ibu Pertiwi, yaitu sari-sari hasil bumi yang membawa kemakmuran dan kesejahteraan.
![]() |
| Watulumpang/Yoni berbentuk bulat adalah lambang Ibu Pertiwi Bhumi Singhasari |
Secara khusus Watulumpang ini mewakili Bhumi Singhasari sebagaimana dijelaskan dalam Desawarnana Pupuh XL sloka 2, deshagong wetaning parbwata kawi pnuhing bhogatiramyas kuwwanggehnyan kamantryyan mangaran i kutharaja .... (wilayah nan luas di sisi Timur Gunung Kawi, subur makmur oleh hasil buminya, sebagai tempat tinggal menteri, tempat itu bernama Kutharaja). Kemudian pada Pupuh XLI sloka 3, .... pradesha kutharaja mangkin atisobhitangaran i singhasari nagara (daerah Kutharaja itu kemudian bertambah sejahtera, bernamalah Negeri Singhasari).
![]() |
| Miniatur candi kurung sebelah kiri, melambangkan gunung Kawi |
![]() |
| Miniatur candi kurung sebelah kanan, melambangkan gunung Arjuna |
Apabila Watulumpang ini telah dipahami sebagai lambang Bhumi Singhasari, maka tampaklah dia diapit oleh dua buah miniatur candi kurung yang melambangkan Gunung Kawi dan Gunung Arjuno. Jika kita berdiri menghadap tempat Watulumpang, maka akan kelihatan hamparan persawahan Bhumi Singhasari. Di sebelah kanan kita melihat gugus pegunungan Arjuno. Di sebelah kiri tampak rangkaian pegunungan Kawi, tepatnya Gunung Pandemas (Pandermann) yang masih merupakan bagian dari Kawi. Bahkan jika diperhatikan akan tampak pula Gunung Katu atau tempat suci Rabut Katu yang berkaitan dengan Kagenengan di daerah Wagir yang merupakan Pedharman dari Bhattara Amurwabhumi (Ken Angrok), pendiri wangsa Rajasa Singhasari-Majapahit! Situs Watulumpang Hujung ini adalah “pembahasaan” dari perjalanan sejarah Singhasari khususnya dan Indonesia pada umumnya.
![]() |
| Gunung Katu (wagirmalang) |





Tidak ada komentar:
Posting Komentar