Senin, 27 Juli 2015

HYANG IBU HUJUNG (3)

Makna Sebuah Simbol Kebangsaan
Tanah pelataran tempat berdirinya Watulumpang dibentuk segitiga melambangkan keharmonisan hubungan antara Tuhan Yang Mahapencipta sebagai sumber asal-muasal tertinggi bersama ciptaan-Nya yaitu manusia dan alam semesta. Manusia menjalin hubungannya dengan Tuhan melalui jalan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Namun ibadah itu tentu harus disertai dengan kepedulian terhadap sesama dan juga lingkungan. Manusia secara nyata dapat hidup dengan bahagia dan sejahtera adalah melalui dukungan sesamanya dan alam lingkungan yang memberikan berbagai kebutuhan. Sesungguhnya Tuhan memelihara umat-Nya dengan adanya sesama sebagai mitra yang saling mendukung dalam menjalani kehidupan dan perannya di alam semesta. Tuhan juga memberikan karunia-Nya melalui alam lingkungan, ibu pertiwi dengan segala kekayaannya yang dapat diolah dan dimanfaatkan manusia. Adalah kewajiban manusia untuk bersyukur dan tidak putus-putus berterimakasih kepada Tuhan, yang diwujudkan utamanya dengan menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama manusia dan bersama-sama turut memelihara kelestarian alam anugerah Tuhan ini. Itulah makna dari pelataran berbentuk segitiga. 
 
Tanah pelataran Hyang Ibu berbentuk Trikona atau segi tiga

Watulumpang yang berbentuk bulat adalah Yoni, simbol Ibu, yang juga melambangkan alam semesta ciptaan-Nya. Bila lebih dikhususkan maka itu adalah Ibu pertiwi, tanah air Nusantara, tempat kita berpijak dan memperoleh kehidupan. Bagaikan seorang ibu yang memelihara anaknya dengan penuh kasih sayang, melalui Ibu Bumi, Tuhan menyediakan berbagai hasil alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Air alami yang ditampung dalam Watulumpang melambangkan air susu Ibu Pertiwi, yaitu sari-sari hasil bumi yang membawa kemakmuran dan kesejahteraan. 
 
Watulumpang/Yoni berbentuk bulat adalah lambang Ibu Pertiwi Bhumi Singhasari

Secara khusus Watulumpang ini mewakili Bhumi Singhasari sebagaimana dijelaskan dalam Desawarnana Pupuh XL sloka 2, deshagong wetaning parbwata kawi pnuhing bhogatiramyas kuwwanggehnyan kamantryyan mangaran i kutharaja .... (wilayah nan luas di sisi Timur Gunung Kawi, subur makmur oleh hasil buminya, sebagai tempat tinggal menteri, tempat itu bernama Kutharaja). Kemudian pada Pupuh XLI sloka 3, .... pradesha kutharaja mangkin atisobhitangaran i singhasari nagara (daerah Kutharaja itu kemudian bertambah sejahtera, bernamalah Negeri Singhasari). 
 
Miniatur candi kurung sebelah kiri, melambangkan gunung Kawi


Miniatur candi kurung sebelah kanan, melambangkan gunung Arjuna

Apabila Watulumpang ini telah dipahami sebagai lambang Bhumi Singhasari, maka tampaklah dia diapit oleh dua buah miniatur candi kurung yang melambangkan Gunung Kawi dan Gunung Arjuno. Jika kita berdiri menghadap tempat Watulumpang, maka akan kelihatan hamparan persawahan Bhumi Singhasari. Di sebelah kanan kita melihat gugus pegunungan Arjuno. Di sebelah kiri tampak rangkaian pegunungan Kawi, tepatnya Gunung Pandemas (Pandermann) yang masih merupakan bagian dari Kawi. Bahkan jika diperhatikan akan tampak pula Gunung Katu atau tempat suci Rabut Katu yang berkaitan dengan Kagenengan di daerah Wagir yang merupakan Pedharman dari Bhattara Amurwabhumi (Ken Angrok), pendiri wangsa Rajasa Singhasari-Majapahit! Situs Watulumpang Hujung ini adalah “pembahasaan” dari perjalanan sejarah Singhasari khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Gunung Katu (wagirmalang)

Minggu, 26 Juli 2015

HYANG IBU HUJUNG (2)

Simbol Kasih Sang Ibu Pertiwi

Simbol ini berupa peninggalan berbentuk lumpang batu silindris berukuran diameter atas sekitar 1 m yang kemudian mengecil pada bagian bawah kira-kira berdiameter 80 cm. Pada sisi-sisinya terdapat motif ukiran bunga dan diagram bersudut 12 yang unik. Sebagiannya terdapat kerusakan yang diperkirakan akibat kesengajaan/gempuran sehingga tidak utuh lagi. Pada bagian tengah terdapat lubang cerukan dengan diameter lebih kurang 20cm dan dalamnya 40cm yang selalu terisi air. Bentuk peninggalan demikian ini cukup langka dan jarang ditemukan. Sepertinya bahkan hanya ada di tempat ini saja. Diperkirakan berfungsi sebagai bagian dari ritual yang berkaitan dengan pertanian di masa lampau.
Situs Hyang Ibu Hujung. Watulumpang/Yoni yang kini ada di Urung-urung. Dusun Ngujung, Desa Toyomarto, Singosari
Saat ini Kedatwan Singhasari bersama warga Dsn. Ngujung berupaya mengamankannya di suatu tempat yang dikenal sebagai Urung-urung. Terletak di Dsn. Ngujung, Desa Toyomarto, Singosari. Dapat dicapai dengan masuk melalui Gang 3, lurus menuju selatan ke arah persawahan. Dari jalan terlihat jelas adanya pohon besar yang menaungi situs ini. Sebelum menuju situs kita terlebih dahulu dapat mengunjungi Pos Informasi yang terletak di rumah Mbah Talim. Beliau bersama dengan Mbah Sutaji adalah sesepuh yang ditunjuk oleh Kedatwan untuk menjaga kelestarian Watulumpang. Di sini kita bisa memperoleh keterangan dan pendampingan yang diperlukan saat mengunjungi situs Watulumpang. 

Menentukan batas wilayah tempat berdirinya pedestal bagi Yoni Hujung
Kerja gotongroyong warga Kedatwan menggali pondasi pelataran Hyang Ibu Hujung. Apapun profesinya, mendadak jadi kuli dan tukang.
Menempatkan benda-benda yang sudah diberkati, prasasti sapatha, permata, kepingan logam, dan diagram-diagram yantra untuk mengawali pembangunan batas pelataran Hyang Ibu
Memulai memasang batu-batu pondasi keliling
Sesungguhnya tempat asli peninggalan ini pun berada dekat dengan lokasi peninggalan di Karangwaru. Penataan kembali lokasi peninggalan Watulumpang ini diprakarsai oleh Kedatwan Singhasari mulai tanggal 25 Januari 2014. Upaya ini salah satunya dimaksudkan untuk pelestarian secara fisik sehingga tampak lebih tertata dan indah sehingga dapat dijadikan tujuan wisata di wilayah Singosari-Malang. Di samping itu penataan ini juga dilaksanakan sedemikian rupa sehingga saat ini keberadaan peninggalan tersebut dapat bermakna dan memberikan pesan-pesan moral yang bisa disampaikan kepada generasi berikutnya. 
Menggali pondasi pedestal/lapik alas untuk menempatkan Yoni
Kryan Adyakulapati dan Rangga Atuha menempatkan kembali salah satu batu dan bata merah kuno yang dahulu berserakan di sekitar Yoni sebagai dasar bangunan lapik Yoni 
Sesaji sederhana dan yantra yang dituliskan di lempeng tembaga dibungkus lagi dengan yantra kain menjadi pelindung batu dasar bangunan ini
Yantra Kura-kura Lima Unsur Sanghyang Pancabhutakupa, simbol alam yang mendukung kehidupan
Dasar yang ditutup Sanghyang Bajranala


Lapik Yoni mulai dibangun setelah ritual penempatan dasar. Dikerjakan sendiri oleh para Kulapati 




Perjuangan memindahkan Yoni Hujung ke atas lapiknya yang telah disiapkan. Perlu duabelas orang. Mereka adalah warga Kedatwan dan WARGA DUSUN NGUJUNG, ORANG-ORANG YANG SAMA YANG TELAH MENYELAMATKAN YONI DARI KEADAAN TERLANTAR DI PINGGIR JALAN BERTAHUN-TAHUN LALU
Mengatur posisi Yoni di lapiknya yang baru


Anak-anak pun juga ikut membantu
Penyucian kembali dan peresmian peninggalan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2014, setelah serangkaian penataan dianggap cukup oleh Kedatwan. Pada saat yang sama juga dilaksanakan penyerahan oleh Kedatwan selaku pelaksana awal penataan situs kepada masyarakat yang diwakili oleh Lurah Toyomarto untuk melaksanakan pelestarian dan pengembangan lebih lanjut. Secara resmi juga ditunjuk Mbah Talim dan Mbah Sutaji sebagai juru pelihara situs dengan persetujuan Lurah Toyomarto, Kedhatwan Singhasari, dan masyarakat. Mereka berdua adalah tokoh yang selama ini melaksanakan tugas pelestarian dan pemeliharaan situs selama bertahun-tahun secara sukarela dan swadaya. Situs Watulumpang Hujung telah ditata sedemikian rupa oleh Kedatwan Singhasari sebagai monumen keagungan bangsa. Sebagaimana saat kita memandang bendera Merah Putih berkibar, mengingatkan kita akan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan segala perjalanan sejarahnya yang menggetarkan. Maka kapanpun kita mengunjungi dan melihat situs Watulumpang Hujung ini, hendaknya kita ingat akan Ibu Pertiwi, Tanah Air kita tercinta. Situs ini bukanlah sekedar punden desa sederhana yang sarat takhyul kekunoan. Tetapi ini menjadi tempat keramat bangsa. Keramat bukan karena hal-hal yang bersifat gaib. Tetapi sebagaimana harta pusaka negara (national treasure), dia adalah perlambang yang membangkitkan semangat nasionalisme. Semangat untuk berbakti pada tanah air, membangun jiwa raga demi kebesaran negara. Lambang dari sebuah bangsa besar yang bermartabat, yang tak lupa akan kewajibannya pada Ibu Pertiwi, serta membangun keselarasan dan perdamaian dunia.

Rabu, 15 Juli 2015

HYANG IBU HUJUNG (1)

Jejak Sejarah Mdang di Singhasari

Dusun Ngujung yang terletak di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang sudah merupakan suatu pusat peradaban yang aktif bahkan sejak jaman Medhang di masa pemerintahan mPu Sindok. Dahulunya daerah ini merupakan pusat wilayah Watak bernama Hujung yang dikepalai oleh seorang Raka. Berdasarkan keterangan prasasti-prasasti, paling tidak di daerah Malang terdapat daerah-daerah Watak yaitu Kanuruhan, Waharu, Hujung, Tugaran, dan Pagaingan. Pada prasasti Lawajati/Lowokjati/Lokjati (th.929M) ada disebutkan bahwa daerah Linggasuntan, yang diperkirakan adalah Lokjati sekarang, merupakan termasuk wilayah Hujung di bawah kekuasaan Raka i Hujung mPu Madhura Lokaranjana, yang dimerdekakan dari pajak karena mendukung kelangsungan pemujaan di tempat suci Bhattara i Walandit (Blandit). 
Hyang Ibu Hujung
Dalam kitab Deshawarnana (Nagarakrtagama) karya mPu Prapanca, yang merupakan catatan perjalanan Maharaja Hayam Wuruk keliling negeri, terdapat laporan tentang kunjungan ke Singhasari/Tumapel yang termasuk menyebutkan keberadaan Hujung. Selain itu juga disebutkan tempat yang berdekatan dengan Hujung yaitu Kedung Biru dan Kasurangganan. Kedung Biru sekarang adalah Dusun Biru, Desa Gunungrejo. Di sini terdapat situs yang dikenal sebagai Botorubuh dengan Sumber Nagan dan Sumber Banyu Birunya. Sedangkan Kasurangganan tak lain adalah situs Candi Sumberawan. Keterangan tersebut terdapat pada Deshawarnana Pupuh XXXV sloka 1 – 4 sebagai berikut,

“Sampai Pasuruan menyimpang jalan menuju ke Selatan menuju Kepanjangan. Mengikut jalan raya, kereta berlari beriring-iring ke Andoh Wawang, ke Kedung Peluk, dan ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan. Segera Baginda (Sri Rajasanagara/Hayam Wuruk) menuju kota Singhasari, bermalam di balai kota.
Prapanca yang tertinggal di sebelah Barat Pasuruan ingin terus melancong. Menuju ashrama Indarbaru yang letaknya di desa Hujung. Berkunjung ke rumah pengawasnya, bertanya tentang perkara tanah ashrama (padepokan/biara). Lempengan piagam pengukuh diperlihatkan, jelas adanya setelah dibaca.
Isi piagam: tanah datar, serta lembah dan gunungnya milik Wihara. Begitu pula sebagian Markaman, ladang Balunghura, dan sawah Hujung. Isi piagam merayu hati sang pendeta untuk tinggal jauh dari Pura. Bila telah habis bekerja di Pura, ingin dia menyingkir ke Indarbaru.
Sebabnya terburu-buru (Prapanca) berangkat setelah dijamu bapa ashrama, karena ingat akan giliran menghadap di balai kota Singhasari. Habis menyekar di candi pedharman, Baginda bersukaria, menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan, dan Bureng.”

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah kedudukan Tumapel/Singhasari menjadi sangat penting, pusat dari daerah watak Hujung ini tampaknya berkembang pula menjadi suatu kompleks pemukiman dan ashrama para Brahmana yang mengurus tempat-tempat suci di seputaran wilayah kerajaan Singhasari. Di Dusun Karangwaru yang bersebelahan dengan Dusun Ngujung sekarang kita masih dapat menemukan sebuah situs tempat peribadatan yang terintegrasi dengan pemukiman. Pada saat ini kita hanya mendapatkan reruntuhannya berupa tumpukan batu bata merah berukuran besar. Ada juga sebuah Yoni dan Lingga dari batu, fragmen Kalamukha, dan sisa sebuah Arca Nandi tanpa kepala.

Situs fragmen candi Karangwaru yang belum dirawat
Kalamukha tanpa rahang bawah di situs Karangwaru
Arca Nandi tanpa kepala
Linggayoni Karangwaru. 
Situs Karangwaru yang terlupakan. Tanahnya pun sudah dimiliki pribadi. Upaya pelestarian terhambat oleh status kepemilikan ini
Semua ini menandakan bahwa pada masa lalu tempat ini merupakan pusat peribadatan yang bercorak Hindu. Yoni merupakan landasan atau tatakan dari Arca maupun Lingga yang dahulunya tentu terletak di dalam bangunan suci. Kalamukha merupakan ukiran khas yang ditempatkan pada bagian atas pintu masuk bangunan suci tersebut. Yang unik dari Kalamukha di situs ini adalah tidak memiliki rahang bawah seperti pada umumnya Kalamukha pada candi-candi Jawa Timur. Bentuknya mengingatkan pada ukiran Kalamukha di candi Badut dan Candi Songgoriti. Berbeda dengan yang kita temukan di Candi Singosari yang terletak tak jauh dari situs ini. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tentunya bangunan suci ini berasal dari peradaban yang lebih tua dari masa Tumapel-Singhasari, yang di kemudian hari masih tetap lanjut difungsikan.

Minggu, 12 Juli 2015

MANDALA SANGHYANG SAPTA ARGA POLAMAN (5)

Sapatha, Sebuah Kutukan Pelindung Kesucian
Prasasti sapatha atau kutukan pelindung yang dituliskan di atas lempengan tembaga juga turut diplaspas, diurip, dan kemudian dipendam pada lokasi-lokasi tertentu di seputar wilayah Sanghyang Saptaarga Polaman. Walaupun ini adalah suatu upaya pengamanan yang dirahasiakan, namun perlulah kita mengetahui isi dari sapatha ini, supaya kita terhindar dari berbuat kesalahan di tempat-tempat yang telah dilindungi olehnya. Dengan demikian tentunya kita juga akan terhindar dari akibat-akibat yang ditimbulkannya.

Sebuah sapatha selalu ditempatkan pada masa lalu oleh leluhur kita pada tempat-tempat yang disucikan dan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Polaman dengan sumber airnya yang menghidupi ribuan orang tentu adalah salah satunya. Jika kita tidak ketat dalam melindungi sumber ini, apa jadinya ribuan orang yang minum airnya dan juga berhektar-hektar sawah yang tergantung pada pasokan air dari Polaman. Oleh karena itu, Kedatwan Singhasari pun mengikuti kembali upaya supranatural warisan pendahulu kita ini untuk menjaga dan melindungi sumber berikut situs purbakala dan bangunan-bangunan suci di atasnya, yang semata-mata dibangun hanyalah untuk mengupayakan kebaikan dan kesejahteraan bersama.

Inilah isi sapatha Sanghyang Saptaarga ri Polaman supaya diperhatikan oleh kita semua.

"Iki sapatha tinibakneng atithawarttamananagatakala rumaksa mandala bhattarengpolaman 
kunang yang hana mirudha i sanghyang mandala bhattarengpolaman makaswarupanira sri paduka bhattari wasundhari mwang bhattara mahawishnu, sapratimanira hyang mahaguru, ganapati, bhattara buddha sri prajnaparamita, sarwwahananya, siwihos kunang yang hanangrubuhakna rupanira bhattarengpolaman, amangguha papa, sighra tibakna krodha bhatara yama kalagnirudra bajranala tadahen denira bhattari durgga bhairawi, cucupateknya, langga rudhiranya, rimarima hatinya, hamelamel dagingnya, hulunya tumpur bhrasta sahananya, umangguha catuspataka sahasrakoti janmanya kalbwing kawah. sanghyang trayodasasaksi amatyanana, denta amatyanana, yan humalintang ring tgal, sahuten dening ula, mandayan mareng alas dmakning mong, manglangkahana mingmang, yan mareng banwagong sahuten dening wahuya, mumul, tuwiran, yang liwat ing hawan gong kasopa wulanguna, yang hudan samberen ing glap, yan haneng umahnya katibanagni tanpa warsa, liputen gsengana de hyang agni wehen bhasmibhuta saha drwyanya, tanpanoliha ring wuntat, tarung ring adgan, tampyal i kiwan uwahi tngenan, tutuh tunduhnya, blah kapalanya, sbit wtengnya, tatas dadanya, wtwaken dalemanya, pangan dagingnya, inum rahnya, ateher pepedaken wehi pranantika bwangaken ing akasa, tibaken ing kawah, astu."

Inilah kutukan yang dijatuhkan untuk melindungi tempat suci Bhattara di Polaman, di masa lalu, masa kini, dan masa depan, untuk selama-lamanya.
Siapapun yang berlaku merusak di tempat suci Bhattara yang ada di Polaman, sebagai tempat perwujudan Bhattari Sri Basundhari dan Bhattara Mahawishnu, beserta citra-citra perwujudan arca Hyang Bhattara Mahaguru, Bhattara Ganesha, Bhattara Buddha dan Bhattari Prajnaparamita, semua yang ada, seumpama ada yang berniat menghancurkan perwujudan-perwujudan suci Bhattara di Polaman ini,  maka mereka bakal tertimpa petaka papa. Segera turunlah murka dewa kematian, api sang waktu yang mengerikan, api yang bagaikan halilintar tak dapat ditangkis, dimakanlah oleh Bhattari Durga Bhairawi, disedot otaknya, dihirup darahnya, diiris-iris hatinya, dicacah dagingnya, pecah berkeping-keping kepalanya, berhamburan isinya, masuklah ke dalam empat neraka yang paling mengerikan, beratus ribu kali lahir diceburkan ke dalam kawah. Sanghyang Trayodasasaksi tidak akan mengijinkannya lepas, pasti akan dibunuhnya. Cara membunuh mereka adalah sebagai berikut: Apabila melewati padang tegalan mereka akan dipatuk ular berbisa, apabila masuk hutan mereka diterkam macan, apabila melangkahi ranting kayu mereka disesatkan mingmang, apabila masuk sungai  mereka diterkam buaya, apabila masuk laut mereka dimakan ikan hiu atau hewan laut ganas, keluar siang hari kecelakaan berat, jika kehujanan disambar petir, jika di rumah maka kejatuhan api tanpa disangka, mereka diselimuti dan dimakan Bhattara Agni, dilebur menjadi abu, beserta seluruh harta bendanya tanpa sempat menoleh kebelakang. Jika bertarung dengan musuh, diterjang dari depan, dihantam dari kanan kiri, dihantam punggungnya, dipecah kepalanya, dirobek perutnya, dijebol dadanya, dikeluarkan seluruh jeroannya, dimakan dagingnya, diminum darahnya, lalu mereka dicekik sampai mampus, dibuang ke angkasa kemudian dijatuhkan ke kawah membara. Semoga demikianlah. 

"nihan ajnanku ri kamung sadaya. hyang hyang raksadewa yaksa raksasa daitya danawa preta pisaca brahmabhuta. yanghana manusa dussilaniccha mamirudha kahyangan dewata ri polaman sighra tibakna asubha phalanya. amanggiha papa durmanggala saparanparan"

MANDALA SANGHYANG SAPTAARGA POLAMAN (4)

Membuka Gerbang Niskala Singhasari
Sebagaimana seharusnya sebuah Kesanghyangan yang suci, tentunya dilakukan sejumlah upacara untuk memulai pemanfaatannya secara resmi sebagai pusat spiritual. Pemlaspasan bangunan suci candi Sanghyang Saptaarga juga diselenggarakan pada Purwani Purnama Kelima, 16 November 2013. Upacara ini selain sebagai upaya menyucikan kembali Petirtan Polaman dan Sanghyang Saptaarga, juga merupakan suatu upaya spiritual untuk membuka kembali gerbang yang menghubungkan para Hyang Karihinan, leluhur pendiri dan penegak peradaban Singhasari di masa lampau, dengan para sentana-paratisentana, anak cucu keturunan pewaris mereka di masa kini. Inilah pertanda kembalinya para sentana-paratisentana pulang ke tanah leluhurnya. Memohon agar Hyang Karihinan bersedia membuka gerbang niskala Singhasari bagi para penerusnya. Gerbang yang sebelumnya telah tertutup rapat demi melindungi kesucian dan kemurnian Singhasari dari pengaruh-pengaruh asing yang menjajah Bhumi Suci sakala selama berabad-abad.


Upacara Pemlaspasan ini dipimpin oleh Ida Pedanda Rsi Agung Damarjaya Pemecutan dan Ida Pedanda Agung Bhagawan Hyang Anulup Pemecutan. Sekali lagi, kerabat Kedatwan Singhasari yang berasal dari berbagai komunitas, berbagai keyakinan, dan berbagai garis jalan spiritual berkumpul bersama di Polaman untuk memahayu hayuning bhawana, mengupayakan kesejahteraan dunia, khususnya agar kewibawaan dan kejayaan Bhumi Singhasari dan peradabannya yang menakjubkan dapat segera mewujud ke alam sakala.





Bersatu lagi dalam semangat, doa, dan upaya kerja keras bersama mengembalikan peradaban Singhasari

Mulai saat itu, ritual rutin dilaksanakan sebulan sekali pada Malam Jumat Legi/Umanis. Pada hari ini dilaksanakan Puja Pemahayu Bhawana oleh para Pratyayakara Kedatwan Singhasari yang berkumpul semua di Saptaarga untuk mendoakan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan alam semesta, khususnya Bhumi Singhasari. Pada malam tersebut dilaksanakan pengukupan/pengharuman dengan asap bakaran wewangian bagi sumber air Polaman. Inilah saat dibukanya pintu besi tandon pelindung sumber yang dahulu dibangun oleh Belanda. Jika tepat waktu kita bisa melihat ke dalam dan mengetahui secara langsung sumber air asli Polaman yang penuh nuansa mistis. 
Suasana candi Saptaarga saat Puja Pemahayu Bhawana tiap malam Jumat Legi (Umanis)


Prosesi unik lainnya adalah pembacaan mantra-mantra sapatha, yaitu kutukan pelindung untuk menjaga keamanan, kelestarian, dan kesucian kesanghyangan beserta sumber airnya, karena Polaman merupakan sumber air yang sangat penting penyedia utama bagi sebagian besar wilayah kecamatan Lawang. Sehubungan dengan itu, maka tidak jarang peringatan Malam Jumat Legi ini juga disertai dengan doa lintas agama dan kepercayaan dari berbagai komunitas.
Candi Sanghyang Saptaarga, simbolik kehadiran rohani Sri Mahawisnu di Polaman
Pratima Bhattara Marawijaya Ganapati
Pratima Bhattara Mahaguru Agastya
Pratima Bhattari Prajnaparamita
Dua orang pelindung bertempat di sini untuk bertanggungjawab menjaga kelestarian, kesucian, dan memperhatikan kesinambungan upacara-upacara serta kegiatan rohani yang dilaksanakan di kesanghyangan, termasuk memfasilitasi para yatri atau umat yang datang bersembahyang. Sang Pratyayakara adalah spiritualis, budayawan, dan pecinta sejarah yang telah sejak awal berusaha melestarikan peninggalan kepurbakalaan di Polaman. Beliau adalah Adyapati Kedatwan Rm. SAA. Suryadhi dan juga Pratyayakara Rm.KA. Adinatha (Mbah Adjiz)

MANDALA SANGHYANG SAPTA ARGA RI POLAMAN (3)


Tempat Suci dan Taman Meditasi
Sebagai upaya lebih lanjut untuk melestarikan peninggalan-peninggalan purbakala di petirtan Polaman dan mengembalikan kesucian tempat ini sebagai Mandala Sanghyang, maka diadakanlah serangkaian pembangunan dan penataan secara bertahap oleh Kedatwan Singhasari dan swadaya masyarakat Lawang-Singosari.
Yantra, akshata/beras kuning, dan air suci
yang akan ditempatkan sebagai pembungkus dasar bangunan suci Sanghyang Saptaarga
SAA Suryadhi, Adyakulapati Kedatwan Singhasari menempatkan dasar bangunan suci
Beberapa pecahan periuk kuno yang ditemukan di sekitar lokasi bangunan
 juga turut dimasukkan sebagai dasar. Jika disimpulkan dari penuturan sumber setempat,
kemungkinan merupakan bagian dari periuk pripih pancadhatu kuno
 dari bangunan candi terdahulu yg isinya telah hilang.
Bangunan suci utama yang didedikasikan kpd Sanghyang Saptaarga Sri Mahawisnu
Miniatur candi ini dihias sesaat sebelum upacara penyucian/pemlaspasan
Candi Sanghyang Saptaarga dengan relung timur bersthana Bhattara Marawijaya Ganapati
Ini adalah salah satu dari Pratima yang sangat penting dalam perjalanan Kedatwan
Pratima Bhattara ini kemudian ditempatkan di Polaman bersama Pratima Bhattara Mahaguru,
Bhattara Tathagatha, dan Bhattari Prajnaparamita
Pratima Bhattara Marawijaya Ganapati yg sebelumnya dirawat oleh
Pratyayakara di Anantasana dr. SAB. Putu Beniartha, selanjutnya ditempatkan di Saptaarga Polaman


Pratima Bhattari Prajnaparamita yang juga akan ditempatkan dalam relung utara
SAA Suryadhi membawanya sesaat sebelum pemlaspasan
Pratima ini dipersembahkan oleh Rm. KA. Suwondo,
Pratyayakara Kedatwan yg bertugas di Purwapatapan (Candi Singosari)
Pembangunan selanjutnya terus diupayakan terutama membangun tembok di sekeliling bangunan suci utama berupa miniatur candi yang kemudian akan dipersembahkan sebagai kedudukan niskala/pelinggih dari Sanghyang Sri Mahawisnu dan pusat dari taman meditasi. Semua dikerjakan secara swadaya. Bahkan Rm. SAA. Suryadhi sendiri yang turut membangunnya dengan kemampuan undhagi (pertukangan) yang tiba-tiba saja dimilikinya (sebenarnya beliau seorang teknisi/mekanik dan aktivis sosial-politik).
Rm. Mangku Dharma mengerjakan ukiran naga yang melingkari pagar pembatas
Bekerja bergantian dengan Rm. Suryadhi dengan peralatan seadanya